Blog EntryBias Berita Media soal Wafatnya SoehartoJan 29, '08 5:56 PM
for everyone

Sumber: Jawa Pos, 30 Januari 2008

Oleh Nurudin

Mengamati pemberitaan media massa (cetak dan elektronik) kita sebelum dan sesudah meninggalnya mantan Presiden Soeharto, saya ikut merinding. Secara kuantitas, hampir semua media massa sudah kehilangan daya kritisnya. Semua pemberitaan nyaris seragam, memberitakan hal yang positif tentang mantan pengusa Orde Baru (Orba) tersebut.

Itu tak bermaksud, media massa harus memberitakan sisi negatif saja. Hanya yang agak aneh, keberpihakan media sangat terasa. Tak kalah anehnya adalah pemberitaan seputar pemakaman Soeharto.

Apakah itu hanya terjadi pada media massa dalam negeri? Tidak. Media massa luar negeri justru lebih ngeri karena hanya memberitakan sisi buruk Soeharto tanpa melihat sisi positif yang selama ini sudah diberikan kepada bangsa dan negara ini.

Washington Post menurunkan tulisan dengan judul In Indonesia’s Ex-Dictator Soeharto. Sementara itu, ada pula judul-judul yang dibuat; Buried, Soldier, Savior, Strongman, Crook (Newsweek), Suharto, Tyran of Indonesia, Dies Without Facing Justice (The Independent), President Soeharto, 86; Indonsian Ruler Left Mixed Legacy of Prosperity and Untold Deaths (LA Times), Suharto, Former President of Indonesia and Brutal Rules, Dies (Timesonline), dan lain-lain. Yang jelas, gambaran judul beberapa media asing itu terkesan negatif dan memojokkan mantan presiden ke-2 RI tersebut.

Melihat perbedaan yang mencolok pemberitaan media massa dalam dan luar negeri tersebut, kita merenung bagaimana media massa sampai terbawa arus untuk memihak salah satu kecenderungan saja? Di sinilah kita perlu mendiskusikan tentang objektivitas media.

Objektivitas

Berbicara tentang objektivitas media massa, kita bisa memakai perspektif yang pernah diajukan Westerstahl (McQuail, 2000). Dia pernah mengatakan, objektif itu harus mengandung faktualitas dan imparsialitas. Faktualitas berarti kebenaran yang di dalamnya memuat akurasi (tepat dan cermat) dan mengaitkan sesuatu yang relevan untuk diberitakan (relevansi). Sementara itu, imparsialitas mensyaratkan adanya keseimbangan (balance) dan kenetralan dalam mengungkap sesuatu.

Objektivitas selalu mengandung kejujuran, kecukupan data, benar dan memisahkan diri dari fiksi dan opini. Ia juga perlu untuk menghindarkan diri dari sesuatu yang hanya mengejar sensasional.

Apa yang dikemukakan Westerstahl tersebut tidak mudah untuk diwujudkan. Media massa tidak lepas dari subjektivitas atau subjektivitas yang objektif. Subjektivitas dilakukan jika media massa memberitakan suatu kejadian yang tidak pernah terjadi.

Subjektivitas yang objektif terjadi ketika media massa secara terang-terangan atau tidak cenderung membela salah satu pihak yang sedang diberitakan. Pemberitaannya berdasar fakta-fakta yang terjadi (objektif), tetapi penulisannya secara subjektif.

Jika kita memakai kriteria tersebut, media massa yang memberitakan kasus Soeharto nyata tidak objektif lagi. Ada nuansa bias yang mengiringi penulisan beritanya. Itu sangat terlihat ketika televisi-televisi Indonesia mulai Minggu (27/1) siang sampai Senin (28/1) menyoroti Pak Harto. Hampir semua televisi hanya memberitakan sisi positif Pak Harto.

Bahkan, beberapa stasiun televisi kita memilih narasumber yang mengulas kematiannya kebanyakan berasal dari orang yang pernah punya hubungan dekat dengan mantan penguasa Orba itu.

Artinya, kita hampir tak pernah disuguhi pemberitaan bagaimana tanggapan masyarakat Kedungombo (misalnya) ketika harus terusir dari tanah kelahirannya tentang kematian Pak Harto.

Bagaimana pula, komentar keluarga yang menjadi korban "Tragedi Trisakti 1998". Seolah semua sudah di-setting hanya memberitakan seputar permukaan dan tidak banyak menggali hal-hal yang bernuansa kritis. Bisa jadi, itu disebabkan kelemahan televisi untuk memunculkan fakta atau data yang melengkapi beritanya.

Tetapi, sebenarnya televisi bisa menugaskan reporter untuk menginvestigasi ke lapangan di luar "acara resmi" pemakaman Pak Harto. Kenyataannya, bukankah acara televisi tentang berita kematian Soeharto nyaris seragam?

Idealnya

Pamela J. Shoemaker dan Stephen D. Reese dalam bukunya Mediating The Message (1996) pernah melihat mengapa media massa bisa mempunyai perbedaan dan persamaan dalam liputannya. Ada beberapa tahap yang memengaruhinya; (1) individual level, (2) media routine level, (3) organizational level, (4) extramedia level, dan (5) ideological level.

Jadi, betapa media massa bukan sebuah lembaga yang independen jika dilihat dari pemberitaannya. Semua berita akan terpengaruh oleh banyak hal di dalam dan luar media massa itu sendiri. Apalagi jika ditambah dengan level lain, yakni kemalasan reporter untuk melakukan investigasi ke lapangan. Reporter hanya senang dengan berita-berita berdasar realitas psikologis (sumber-sumber resmi) yang memunculkan jurnalisme kutipan saja dan tidak berdasar realitas psikologis (melakukan investigasi langsung dan melihat serta menceritakan fakta-fakta di lapangan).

Lepas dari kenyataan tersebut, ada beberapa catatan yang layak untuk terus disodorkan kepada media massa kita. Pertama, dalam situasi apa pun, media massa harus tetap memegang teguh peliputan cover both sides (meliput dua sisi yang berbeda secara seimbang). Bukan menjadi all sides.

Kedua, media massa sebaiknya memosisikan dirinya sebagai (meminjam istilah Jakob Oetama, 2003) the search dan the production of meaning. Media massa dituntut untuk tak sekadar memberitakan fakta apa adanya secara linear, tetapi fakta yang mencakup. Dengan kata lain, fakta perlu dilengkapi dengan latar belakang, proses, dan riwayatnya serta tali temali yang berkaitan dengan fakta tersebut.

Ketiga, media massa harus menjadi penentu arah perubahan masyarakat dan bukan sekadar memberitakan fakta telanjang. Tentu saja, arah perubahan yang positif di masa datang. Ketika memberitakan kasus wafatnya Pak Harto, media massa tidak harus terjebak pada berita-berita seremonial, tetapi juga mampu mengarahkan, mempertanyakan, menggelitik pembaca bagaimana penyelesaian "kesalahan" Pak Harto di masa lalu. Itu tak berarti tidak ikut berduka cita, hanya media massa tetap punya tugas mulia seperti itu.

http://www.jawapos.co.id/index.php?act=detail_c&id=323781


12 CommentsChronological   Reverse   Threaded
agamfat wrote on Jan 29
Merinding memang melihat TV. Koran masih terlihat imbang. Terlihat pula kualitas wartawan TV yang kalah jauh dari koran (besar)
nurudin wrote on Jan 29
jangan merinding ah, saya jga ikut2an nih he.he
blackuniverse wrote on Jan 29
mas, saya permisi mau link artikel ini ke blog saya ya! thanks
sugengwin14 wrote on Jan 30
oyi!
TV, Radio dan Koran disini memberitakan kematian daripada Bapak dgn dihubung-hubungkan pelanggaran HAM di TIMTIM. Kalau sampai fans berat daripada Bapak lihat, baca atau dengar, pasti marah daripada tidak marah.
nurudin wrote on Jan 30
monggo, dipersilakan. terima kasih
nurudin wrote on Jan 30
betul pak genk, saya gak sempat browsing judul2 artikel pers australia. hanya yang sebagian saja, itupun tidak semua.
clearerthandaylight wrote on Jan 30
sori, dpt link ini dr ney...

artinya: secara media, reformasi kita cuma label doang... mungkin reformasi baru bisa berpijak sekitar 50 tahun lagi, dan baru mulai langkah pertama 100 tahun kemudian... atau dengan kata lain, reformasi baru jalan kalo anak2 sd skrg udah pada uzur dan anak2 mereka tumbuh dewasa menjadi penerus bangsa... mungkin...
viio wrote on Jan 30
Idealnya siy begitu... mungkin sekarang ini memang kita masih dalam tahap euphoria seremonial belaka. Kita tunggu aja media mana yang berani melakukan gebrakan untuk mengarahkan, mempertanyakan, menggelitik pembaca tentang bagaimana penyelesaian "kesalahan" Pak Harto di masa lalu tanpa mengurangi rasa hormat atas jasa-2nya terdahulu dengan cara meliput dua sisi yang berbeda secara seimbang. Wait n See.. ;-)
blackuniverse wrote on Jan 30
kritis tapi seimbang. lumayan menantang tuh. kita lihat aja, ada nggak 'media' yang berani menjawab tantangan ini..
irfanwahyudi wrote on Jan 30
pada dasarnya media indonesia juga masih menganut idiom birokrat kita ABS - Asal Bapak Senang. Media juga melakukan itu, namun singkatannya beda = Asal Bos Senang, hehehe... Bagaimana tidak, kalau bos2 media, terutama TV swasta di Indonesia punya 'hubungan' dan 'hutang' khusus dengan almarhum dan keluarganya. Ya jadinya itulah..
yang jelas, hari senin kemarin, kita disuguhi berita monokrom dan monoton dari setiap media massa, seperti era 'laporan khusus' di TVRI dulu... untung saya langganan TV kabel.. wehehehe...
Salut Mas!
nurudin wrote on Jan 30
setuju banget...........................media kita emang masih seperti itu. coba kita tunggu saja. kalau tidak kita harus berbuat (?)
kenangajingga wrote on May 8
kalo sudah bicara uang, repot deh...
Add a Comment
   
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help