Bukuku

Photo Albumbuku-buku-2Aug 9, '06 8:39 AM
for everyone

Komunikasi Propaganda
 1 Comment 
TV Agama Baru Masyarakat Modern
 1 Comment 
Komunikasi, Perub Sosial & Dehumanisasi
  
Kebijakan Elitis Politik Indonesia
 1 Comment 
Agama Tradisional
  


13 CommentsChronological   Reverse   Threaded
imazahra wrote on Aug 10, '06
Wow, buku2 karangan Mas kereeeeeeeen, I wish I had all of them to be read by me :-p
nurudin wrote on Aug 16, '06
salam kenal ya. makasih banyak Ima, sorry baru bales, internet di rumahku sedang drop nih. ayo nulis buku ya?
imazahra wrote on Aug 16, '06
Waaaaaaah, berat ini ajakannya, huhuhuhu...
Aku juga baru belajar nulis ini Mas di MP :-)
Ajarin yaaaaaaa :-D
nurudin wrote on Aug 19, '06
enggak berat kok nulis, buktinya saya bisa buat buku Menulis Artikel itu Gampang, bener kok. ya kumpulkan data dulu aja. aku ingin tahu juga kapan2 caranya bisa nembus belajar di LN, di leed ya? wah bisa nonton mainnya leed united nih ya. punya yahoo messerger enggak, kan bisa chat dengan aku
nurudin wrote on Jan 6
Memahami Makna dan Seluk Beluk Propaganda
oleh Ardiansyah, mahasiswa Jurusan Teknik Informatika Universitas Ahmad Dahlan, Yogyakarta (Sumber: Kompas, 26 Oktober 2001)


Judul: Komunikasi Propaganda, Penulis: Nurudin, Penerbit: Remaja Rosdakarya Bandung, Cetakan Pertama, Juli 2001, Tebal: (viii + 155) halaman.

>Jumat, 26 Oktober 2001

Memahami Makna dan Seluk Beluk Propaganda

Judul: Komunikasi Propaganda, Penulis: Nurudin, Penerbit: Remaja Rosdakarya Bandung, Cetakan Pertama, Juli 2001, Tebal: (viii + 155) halaman.


--------------------------------------------------------------------------------

PROPAGANDA sebetulnya sering kita bicarakan, karena propaganda memang tumbuh di tengah-tengah masyarakat. Ia menjadi bagian dari alat atau teknik berkomunikasi dan dijadikan sebagai salah satu metode dalam komunikasi.

Sejalan dengan tingkat perkembangan teknologi komunikasi yang kian pesat, maka metode komunikasi pun mengalami perkembangan yang pesat pula. Namun semua itu, mempunyai aksentuasi sama yakni komunikator menyampaikan pesan, ide, dan gagasan, kepada pihak lain (komunikan). Hanya model yang digunakannya berbeda-beda.

Bila dirinci secara lebih konkret, metode komunikasi dalam dunia kontemporer saat ini yang merupakan pengembangan dari komunikasi verbal dan nonverbal meliputi banyak bidang, antara lain jurnalistik, hubungan masyarakat, periklanan, pameran/ eksposisi, propaganda, dan publikasi. Berdasarkan metode dalam komunikasi seperti tersebut tadi, semakin jelas kiranya, bahwa propaganda menjadi salah satu metode dalam komunikasi.

Tentunya, karena propaganda menjadi bagian dari kegiatan komunikasi, maka metode, media, karakteristik unsur komunikasi (komunikator, pesan, media, komunikan) dan pola yang digunakan, sama dengan model-model komunikasi lain. Oleh karena itu, unsur komunikasi secara umum juga berlaku bagi propaganda.


***
BAHASAN singkat di atas merupakan sekelumit dari buku tentang propaganda dan relevansinya dengan bidang komunikasi. Buku Komunikasi Propaganda ini berusaha menghadirkan konsepsi integral dan komprehensif mengenai propaganda, yang belakangan ini mengalami peyoratif (pemburukan) makna.

Oleh karena itu, buku ini mencoba menggali permasalahan dasar, sejarah, dampak, berbagai kasus propaganda di Indonesia dan sekaligus antisipasinya jika berdampak negatif, dengan counter propaganda. Itu artinya, kita tidak perlu apriori pada propaganda, demikian juga tetap harus waspada terhadap dampak buruk yang bisa ditimbulkan.

Pertama-tama buku ini membawa pembaca pada sebuah pemahaman bahwa propaganda itu bisa diibaratkan sebuh ilmu. Tentunya, ilmu itu akan membutuhkan hasil positif jika melekat pada orang yang mempunyai kepribadian baik. Namun, propaganda akan menghasilkan kejelekan dan menimbulkan kesengsaraan manakala melekat pada orang yang tidak baik.

Hal tersebut dapat dibuktikan oleh sejarah antara lain bagaimana Napoleon Bonaparte menggunakan propaganda politik untuk memenangkan perang. Serta tak terkecuali seorang Adolf Hitler yang menggunakan propaganda untuk memusuhi suatu ras dan memenangkan perang dengan meluaskan jurang pemisah antara negara lain sehingga terjadi perpecahan. Jadi propaganda akan berimplikasi baik atau buruk sangat tergantung pada komunikatornya.

Seperti yang telah disebutkan sebelumnya bahwa sekarang ini propaganda mengalami peyoratif makna yang cukup signifikan, maka buku karya alumnus Jurusan Ilmu Komunikasi FISIP Universitas Sebelas Maret Surakarta ini menjelaskan bahwa yang membuat propaganda mengalami pemutarbalikan fakta, disalahgunakan untuk tidak hanya menyebut mengalami makna peyoratif, adalah disebabkan hal-hal sebagai berikut.

Pertama, propaganda mengalami sisi negatif jika telah digunakan dalam bidang-bidang sekuler.

Kedua, propaganda akan mengalami makna negatif sangat tergantung pada peran pemimpin yang menggunakan propaganda tersebut.

Ketiga, propaganda berkait erat dengan situasi dan kondisi masyarakatnya.

Keempat, propaganda dalam perkembangannya hanya digunakan oleh pihak-pihak tertentu yang tak bertanggung jawab dalam mengejar ambisinya.

Pada bab selanjutnya buku ini mengetengahkan bagaimana teknik melakukan propaganda. Ada beberapa teknik yang bisa digunakan dalam melancarkan propaganda. Efektif tidaknya dan pilihan mana yang digunakan, sangat bergantung pada kondisi komunikan, kemampuan komunikator (propagandis), lingkungan sosial politik dan budaya masyarakatnya.

Dalam buku itu disebutkan, beberapa teknik propaganda dan uraiannya. Sedangkan media yang dapat digunakan dalam kegiatan propaganda, disebutkan: media massa, buku, film, dan selebaran.


***
PENULIS buku itu kemudian membawa pembaca pada paradigma secara utuh, dan diberi uraian tentang implementasi propaganda politik pada masa tiga Presiden Indonesia yang pernah menjabat yaitu Soeharto, BJ Habibie, dan Abdurrahman Wahid.

Di era Soeharto atau yang lebih dikenal masa Orde Baru, propaganda politik yang pernah dilakukan antara lain; (1) propaganda menampilkan citra baik kepribadian pemimpin, (2) propaganda pembangunan ekonomi, (3) propaganda dengan organisasi berbasis militer, (4) propaganda sakralisasi Pancasila dan UUD 1945, (5) propaganda penertiban politik dan asas tunggal, dan (6) propaganda dengan politisasi agama.

Pada era BJ Habibie propaganda yang sering diserukannya adalah tentang demokratisasi. Selain itu juga propaganda moral altruisme bangsa dan propaganda pseudo demokrasi.

Untuk era Abdulrrahman Wahid (Gus Dur) yang selama memimpin bangsa ini sangat dipenuhi pro-kontra di masyarakat, dinamika propaganda Gus Dur yang khas dan layak disimak dalam buku ini adalah propaganda menggunakan language politic, mempropagandakan fiqh politik, propaganda "kesejahteraan dan demokrasi sama-sama penting", propaganda Ketetapan (Tap) MPRS No XXV/MPRS/1966, propaganda negara tanpa "tentara", propaganda politik memaafkan, dan terakhir propaganda demokrasi dengan teologi inklusivisme.

Jika propaganda berdampak negatif dan kita tak ingin propaganda seperti itu berkembang di masyarakat, maka tentu saja harus dilawan. Usaha melawan propaganda inilah yang dinamakan counter propaganda. Khusus pembahasan masalah counter propaganda dapat disimak pada bab akhir dari buku karya Nurudin ini.

Dalam counter propaganda, propagandis memberikan kebenaran ide dan gagasan yang sudah melenceng, memberikan fakta-fakta empirik beserta dampak positif yang dimungkinkan terjadi. Counter propaganda harus dilakukan terus-menerus agar tertanam kuat di benak komunikan. Atau kalau sudah tertanam kuat keburukan, propaganda bisa sedikit banyak mempengaruhi pola pikirnya.

Jika komunikan jadi bimbang mempertimbangkan kembali keyakinannya-setelah sebelumnya mempercayai dan berperilaku jelek mengikuti propaganda terdahulu-itu artinya counter propaganda bisa dikatakan setengah berhasil (hlm 125).

Kayaknya Nurudin ingin membuat pembaca lebih memahami apa yang diuraikannya, maka pada bagian ini pula ia memberikan beberapa contoh kasus counter propaganda. Kenapa hal ini dilakukan? Sebab, berbagai kasus itu menolak atau menunjukkan tentang ketimpangan propaganda yang dilakukan pihak lain (pemerintah) dan memberikan esensi dasar obyektivitasnya.

Ini bukan berarti kasus itu seratus persen benar. Hanya ada beberapa indikasi mengembalikan sesuatu pada posisi semula yang tak lain dan bukan mempunyai esensi counter propaganda.

Secara keseluruhan buku ini bisa dijadikan pegangan untuk memfungsikan propaganda secara lebih baik, beretika, sebagai propagandis yang bermoral.


***
DENGAN membahami makna dan seluk beluk propaganda, kita akan mudah mengerti atau menangkap sesuatu yang ditawarkan oleh siapa pun. Misal membaca iklan, mendengarkan promosi barang jualan atau gagasan, dan sebagainya. Pendeknya, kalau kita menguasai masalah propaganda, tak akan mudah tergiur atau terperosok ke hal-hal yang tidak kita inginkan.

Itulah barangkali sumbangan Nurudin dengan menulis buku tersebut.


nurudin wrote on Jan 24
Kebijakan hanya untuk Elite Politik
Oleh: Gugun El-Guyanie
Sumber: Media Indonesia, http://www.media-indonesia.com/resensi/details.asp?id=378

Kebijakan Elitis Politik Indonesia, Nurudin dkk, Pustaka Pelajar, Yogyakarta, I, Februari 2006, xii + 362 halaman

SEBAGAI negara yang menganut sistem demokrasi bahkan masuk dalam tiga besar dunia Indonesia banyak menggoreskan catatan sejarah politik sehingga pasang surut yang menyangkut kebijakan politik

perlu dievaluasi. Tetapi label demokratis yang telah menempel tersebut hanya berada pada tataran ide yang sepenuhnya bertentangan dengan praktik di lapangan.

Kebijakan yang merupakan produk kekuasaan cenderung berpihak kepada segelintir elite politik di negeri yang mayoritas penduduknya hidup di bawah garis kemiskinan. Rakyat yang dalam sistem demokrasi memegang kedaulatan, justru malah tersingkir dari semua kebijakan politik.

Buku Kebijakan Elitis Politik Indonesia adalah kritik dan evaluasi atas penerapan kebijakan penguasa baik masa lampau dan khususnya belakangan ini. Kajian kritis itu adalah hasil analisis tajam atas terjadinya ketimpangan di masyarakat, antara masyarakat kelas atas (high class) dan kelas bawah (lower class).

Diskriminasi kebijakan politik dan ekonomi pada akhirnya meruntuhkan sistem demokrasi sendiri. Masa depan demokrasi di bumi pertiwi ini akan digeser oleh tirani.

Buku yang merupakan kumpulan tulisan para dosen dan pengamat politik dari Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) itu berpijak pada kenyataan yang terjadi pada saat ini. Yakni era isu demokrasi, HAM dan good governance menjadi wacana yang dominan.

Mulai dari sistem Pemilu 2004, kebijakan tentang pertanian hingga pilkada langsung yang memunculkan konflik politik horizontal.

Menyimak tulisan Nurudin yang menyorot peran media massa sebagai penentu suara dalam kebijakan politik sungguh menarik. Analisis yang menyatakan bahwa pemilihan presiden dan wakil presiden secara langsung tidak bisa lepas dari strategi public relations (PR) adalah benar. Hal itu karena kehidupan bangsa kita yang semakin modern dengan ditopang perkembangan sistem teknologi informasi dan komunikasi yang canggih. Tujuan media relations tidak sekadar memberikan informasi semata, tetapi menciptakan citra positif bagi lembaga yang bersangkutan.

Menurut laporan Nielsen Media Research (NMR) periode Maret 2004, angka total belanja iklan Pemilu 2004 mencapai Rp166,9 miliar (hlm 210).

Itulah peran media yang dijadikan alat sosialisasi sekaligus senjata untuk mengelabui pemilih. Janji-janji manis waktu kampanye melalui media massa memiliki fungsi sebagai obat bius yang menghipnotis jutaan rakyat agar mendukungnya. Tetapi setelah kursi kekuasaan yang menjadi tujuan tercapai, mereka melupakannya. Kebijakan yang dilahirkan tidak menyentuh kepentingan rakyat. Apalagi melaksanakan janji-janji sebagaimana yang diobral pada kampanye. Semua itu hanyalah iklan yang bersifat persuasif.

Berkaitan dengan kontribusi kekuatan politik pemerintahan dalam gerakan sosial petani, Wahyudi menghadirkan kritik tajam atas lemahnya concern pemilik kekuasaan terhadap nasib petani. Perjalanan kehidupan petani relatif terlambat jika dibandingkan dengan komponen masyarakat lainnya. Apresiasi dan gairah masyarakat petani yang terkait dengan bidang-bidang seperti pendidikan, teknologi, budaya dan juga agama umumnya tidak lebih kuat jika dibandingkan dengan elemen masyarakat lain.

Potret kehidupan semacam itulah yang di antaranya turut mendorong petani serba mengalami kesulitan mengejar percepatan modernisasi kehidupan sosial (hlm 4).

Kebijakan pilkada langsung yang mulai 2005 menjadi perhelatan akbar juga terkesan dipaksakan--UU No 32/2004 sebagai dasar imperatif dengan berbagai kekurangan di dalamnya. Antara lain lahirnya beberapa keputusan Mahkamah Konstitusi terhadap pasal yang dianggap tidak demokratis, terlambatnya peraturan pemerintah (PP) sebagai petunjuk teknis, belum turunnya dana pilkada, merebaknya politik uang melalui perselingkuhan partai dengan bakal calon, sampai dengan potensi terjadinya eskalasi konflik yang cukup besar (hlm 180).

Itulah sekian kebijakan publik, tetapi ditentukan, dirumuskan, dan diperuntukkan bukan untuk publik tetapi elite tertentu. Maka, vox populi vox dei telah berubah menjadi vox elite vox dei. Demokrasi pun bukan dari rakyat oleh rakyat dan untuk rakyat, tetapi dari rakyat oleh elite dan untuk elite. Gugun El-Guyanie, pustakawan 'KUTUB' Yogyakarta.
nurudin wrote on Jan 24
Televisi, Agama Baru Masyarakar Modern
Oleh Nurudin
Sumber: Suara Merdeka, 8 April 1987 hal. 6.

Suatu kenyataan yang tak terbantahkan muncul. Masyarakat kita memiliki pola pikir, rasa, dan penilaian berdasarkan apa yang pernah mereka lihat di TV. Dalam menilai komunitas dirinya pun, TV dijadikan referensi utama. Artinya, apa yang sesuai dengan TV dianggapnya baik dan apa yang tidak sesuai dengan TV dianggapnya tidak baik. Kenapa ini bisa terjadi? Alasannya, masyarakat kita saat ini sudah banyak belajar dari TV. Segala kebutuhan sehari-hari, gengsi diri (snobisme), dan tingkah laku disesuaikan dengan apa yang terjadi di TV. Di supermarket, banyak wanita dan ibu rumah tangga berbelanja berdasarkan apa yang telah mereka lihat di TV.
Tak terkecuali anak-anak. Mereka meminta permen, mainan anak-anak lainnya pun sejalan dengan apa yang pernah dilihatnya di layar kaca itu. Lebih dari itu, masyarakat telah menyesuaikan jadwal acaranya dengan TV. Di suatu instansi pada saat tertentu para wanita "menghilang.'' Sebab, mereka tengah sibuk menonton telenovela. Hari Minggu yang biasanya digunakan untuk acara santai keluarga pun bisa jadi disesuaikan dengan acara yang disuguhkan di TV. Kalau acaranya bagus, acara santai bisa ditunda Minggu depan.
Akibat kenyataan yang berlarut-larut seperti itu (meminjam istilah Jalaluddin Rakhmat) dapat mengakibatkan timbulnya "agama baru'' dalam masyarakat. Kenapa hal demikian bisa terjadi? Kita melihat dulu realitas dari agama. Agama merupakan dasar pijakan kuat manusia yang berhubungan dengan Allah atau sesama manusia. Ia juga merupakan tempat "bergantung'' manusia agar tidak terombang-ambing.
Melalui agama, manusia diarahkan, dituntut, bahkan "diharuskan'' untuk melakukan sesuatu dan tidak melakukan sesuatu yang lain. Intinya, manusia menjadikan referensi utamanya pada agama. Ketergantungan yang demikian besar manusia pada agama merupakan ciri pokok manusia religius. Kalau manusia sudah menggantungkan dirinya pada hal lain yang sama dengan agama, bisa jadi dalam tubuh manusia itu telah bersemi "agama baru'' di luar keyakinan pokoknya (termasuk keberadaan TV).
Mungkin manusia itu tak merasa, mereka telah menjadikan televisi sebagai "agama baru''. Baginya, bisa jadi agamanya tetap Islam (misalnya). Namun tingkah lakunya sehari-hari atau ketergantungan pada layar kaca itu sama seperti orang beragama atau bahkan mengalahkan agama. TV sebagai referensi utama tingkah laku seperti halnya agama.
Dalam posisi demikian, ada yang perlu mendapat perhatian serius kaitannya dengan pemiskinan imajinasi manusia sehubungan dengan agamanya. Karena telah terbiasa dengan TV, agama pokoknya akan dihitung secara matematis. Mereka akan menggunakan agama itu kalau agama itu menguntungkan secara matematis, karena segala tingkah laku nya telah berdasarkan "agama baru'' itu. "Agama baru'' itu karena sesuai dengan referensi hidupnya - akan dijadikan kerangka acuan utama hidup. Bukankah realitas ketergantungan yang begitu besar masyarakat kita pada TV, memberi kekhawatiran demikian?
Di samping itu "agama baru'' tersebut juga akan menurunkan daya kritis nilai-nilai rohani. Sebab, yang menjadi acuannya saat ini lebih banyak berhubungan dengan atribut fisik. Mulai dari makan, make up, buku, mobil, hingga rumah, dan sebagainya. Padahal agama banyak menekankan nilai-nilai rohani.
Karena itu, kalau kemudian dalam masyarakat timbul krisis rohani, jangan heran. Krisis rohani ini sebagai contohnya adalah lunturnya sifat kejujuran, kesopanan, moralitas, dan kepribadian. Maka tak aneh jika saat ini timbul praktek korupsi dan kolusi yang berkepanjangan. Alasannya, masyarakat telah luntur nilai-nilai rohaninya (baca: nilai religius). Salah satu sebabnya, karena dampak dijadikannya TV sebagai "agama baru.''
glencp wrote on Mar 13
buku tentang komunikasi propaganda yang saat ini saya baca untuk bahan pengajaran saya mas, matur nuwun
nurudin wrote on Mar 13
waduh, matur suwun juga atas kepercayaannya atas buku itu. tapi benarnya buku itu sudah harus masuk revisi nih
glencp wrote on Mar 13
nurudin said
benarnya buku itu sudah harus masuk revisi nih
nanti kalo sudah ada revisinya, saya mohon dikabari ya mas, suwon sak durunge
nurudin wrote on Mar 13
ok, tapi ya tergantung penerbit. susahnya. kalau di Rosda setiap cetak ulang gak ditawarkan ke penulis, apakah ada revisi atau tidak. Ini berbeda dengan rajawali pers. keep in touch
glencp wrote on Mar 14
nurudin said
keep in touch
oh itu pasti, saya balik surabaya tanggal 20, kudu ngajar di D3 Unair mas, mudah2an ada waktu ke Malang, mau ketemu pak dosen yang memberi inspirasi :)
nurudin wrote on Mar 14
ok, tak tunggu
Add a Comment
   
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help