ReviewMunir, Sebuah Kitab Melawan Lupa Aug 7, '06 2:40 AM
for everyone
Category:Books
Genre: Nonfiction
Author:Jaleswari Pramodhawardani dan Andi Widja
Munir, “Cermin” yang Mewariskan Keberanian

Munir itu ibarat sebuah cermin dengan banyak gambar. Dengan kata lain, satu cermin banyak gambar. Artinya, Munir sebuah cermin yang bisa diinterpretasikan banyak hal oleh orang yang bercermin pada “cermin yang bernama Munir” itu.
Ketika orang bercermin, bisa saja wajahnya ganteng, elok, tetapi bisa saja wajahnya bopeng, penuh luka atau bahkan berwajah monster. Banyak wajah itulah wajah kita, tetapi cerminya tetap satu dan punya identitas satu pula kalau kita bisa melihatnya dengan mata batin yang paling dalam.
Itulah kenapa, buku Munir, Sebuah Kitab Melawan Lupa ini punya beragam kisah tentang sosok Munir. Banyak hal yang dikemukakan dari 39 tulisan dalam buku ini menganalogikan sosok Munir sebagai sebuah cermin. Ada kritik, ada keprihatinan, ada suasana kehilangan, sedih, tetapi toh ada juga yang tidak suka pada Munir sehingga ia harus “dibunuh” dengan sadis pada 7 September 2004. Munir adalah sosok pelawan perilaku kekerasan akhirnya meninggal dengan kekerasan pula. Ia diduga “diracun” dalam sebuah penerbangan menuju Belanda untuk meneruskan studi.
Munir boleh mempunyai banyak wajah dimata teman-temannya seperti yang tersaji dalam beragam perspektif tentang sosok Munir yang tertuang dalam buku ini. Tetapi, cermin yang bernama Munir itu punya ciri satu sejak dahulu hingga ia wafat. Cermin itu adalah keberanian. Tiada kata yang paling tepat kecuali istilah itu. Itulah yang menjadi warisan berharga Munir pada kita yang belum tentu ada orang bisa menggantikan warisan keberaniannya.
Mengapa ia dicerminkan sebagai orang yang berani? Sebab, samangat itulah yang selalu dikedepankan sejak tahun 1993 ketika Adnan Buyung lewat tulisannya “Munir Pejuang yang Berkarakter; Yang Tetap Ada Meskipjun Telah Tiada”, “menemukannya” di kota Malang. Bagaimana tidak berani, ialah yang hampir setiap hari berurusan dengan pemerintahan Soeharto yang baru mencapai puncak kekuasaannya. Dengan bendera KontraS (Komite untuk Orang-orang Hilang dan Tindak Kekerasan) ia membusungkan dada melawan kekuasaan yang tiran.
Haidar Bagir bahkan menganalogikan Munir sebagai “David” kecil, yang melawan kekuasaan “Goliat” Soeharto. Keberaian melawan Goliat itulah yang membuat nama KontaS kemudian identik dengan dirinya karena kegigihan dan keberaniannya.
Bahkan Munir termasuk orang yang teguh pendirian, terhadap atasannya sendiri sekalipun (Adnan Buyung contohnya). Ketika atasannya di Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI) itu mau menjadi tim pembela TNI pada kasus Timtim, Munir memprotes dengan keras. Ia bahkan mengusulkan agar Buyung mundur dari YLBHI tempatnya ia bekerja selama ini. Karena tidak berhasil mendongkel kekuasaan Buyung, ia ngompori teman-temannya di YLBHI dan di daerah agar yayasan itu diuba menjadi LSM. Tentu saja perilaku ini ditentang oleh para dewan penyantun YLBHI. Tetapi, ia tetap berani menyuarakan pendapatnya. Keberanian juga membawa ia selalu kritis terhadap perilaku TNI di Aceh.
Sebagai manusia biasa, ia tidak segan-segan mengakui kesalahan yang pernah dibuatnya. Ini ia lakukan ketika meminta maaf dan mengakui bahwa yang mengompor-ngompori agar yayasan LBHI menjadi LSM adalah dia. Sebuah sikap yang dilandasi dengan penuh keberanian tentunya. Keberanian itulah yang kemudian menempatkan dirinya terpilih sebagai sebagai Tokoh Politik 1999 versi majalah Ummat.
Terhadap soal TNI ia juga berani dan tegas. Terhadap maraknya kasus-kasus penculikan pada tahun 1998, Munir mengatakan, “TNI terlibat”. Sebuah pernyataan yang panas dan mengandung risiko tentunya.
Tentu saja kumpulan tulisan tentang almarhum Munir ini bukan kisah semata-mata, ia menyimpan sebuah semangat penuh enerji yang ingin dialirkan ke orang lain. Ibarat sebuah wabah, buku ini menularkan semangat keberanian yang dicontohkan Munir. Ia ibarat sebuah oase di tengah kedahagaan masyarakat yang mengidealkan agar cita-cita keadilan dan kemakmuran bisa dicapai di masa datang. Oase itu telah ditemukan oleh Munir, tinggal bagaimana gerenasi penerus bangsa ini memelihara, memupuk terus oase yang sudah mulai kering tersebut. Tentu saja, kita tidak ingin, semangat kemerdekaan yang dirintis tokoh-tokoh kita terdahulu dinodai begitu rupa. Artinya pula semangat keberanian yang telah ditanamkan Munir sekalipun dalam oasesnya jangan diberikan nila setitik yang menyebabkan keruh semuanya.
Ada satu pernyataan penting yang layak diapresiasi oleh para pejuang demokrasi kita dewasa ini. Munir telah mengajari bahwa kekerasan bukan sesuatu yang tidak bisa dilawan. Munir adalah sosok yang tidak gila jabatan dan pangkat. Buktinya, ketika mau kampanye pemilihan presiden banyak jabatan yang ditawarkan kepadanya oleh partai politik. Tapi itu semua ditolaknya. Ia memilih untuk menyeimbangkan kekuatan negara pada pemberdayaan masyarakat sipil.
Kalau kita berbicara tentang gerakan masyarakat ke depan, layaknya buku ini ditempatkan sebagai bacaan bermuatan enerji karena penuh dengan inspirasi dan semangat yang terus berkobar-kobar. Kalau kita sudah membaca buku ini, tetapi tiada sedikitpun “rasa itu”, barangkali hati kita tengah tumpul oleh keserakahan kita sendiri.

pernah dimuat harian Radar Malang

Add a Comment
How would you rate this book? (optional)
   
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help