ReviewReviewReviewKisah Di Balik Tirai Kebesaran Dec 30, '07 5:42 AM
for everyone
Category:Books
Genre: Nonfiction
Author:Chen Guidi dan Wu Chuntao
Judul : China Undercover (“Rahasia” Di Balik Kemajuan Cina)
Penulis : Chen Guidi dan Wu Chuntao
Penerbit : Ufuk Press, Jakarta
Tahun Terbit : Oktober, 2007
Tebal : 362 + xxvi halaman
Peresensi : Nurudin
Sumber : Jawa Pos, 30 Desember 2007.


Ternyata, cerita tentang keagungan negeri China yang kita dapatkan dalam buku-buku sejarah dan pelajaran dari guru-guru kita tidak seratus persen benar. Selama ini, asumsi tentang negeri tirai bambu tersebut berkait erat dengan keagungan peninggalan sejarah China, kekaisaran yang kuat, “macan asia”, dan atribut keagungan lainnya. Tetapi, mitos-mitos itu dibantah oleh buku China Undercover ini. Buku ini melihat dari sisi lain dan apa yang sebenarnya terjadi yang tidak diketahui oleh masyarakat dunia tetapi dirasakan oleh rakyat di negara itu. Tak lain, karena adanya pembatasan informasi yang sengaja dilakukan untuk dunia luar. Sehingga, kabar tentang negara berpenduduk terbesar dunia itu hanya sebagian kecil.
Tak heran buku ini pernah membuat gerah pemerintah China. Akibat pelarangan peredaran buku ini, edisi bajakannya saja justru terjual 10 juta kopi. Jadi, revolusi China yang didengung-dengungkan sebagai bentuk reformasi, ternyata menjadi bencana bagi mayoritas rakyat China. Anda boleh tidak percaya mengenai kenyataan ini, tetapi luangkan waktu untuk membaca kisah nyata dalam buku ini. Pikiran kita tentang China akan berubah total.
Mayoritas masyarakat China adalah petani. Tetapi petani di negara itu (sebagaimana yang terjadi di negara-negara lain), tidak ditempatkan pada posisi yang semestinya. Mereka dieksploitasi tidak saja dengan cara memainkan harga gabah, tetapi juga banyaknya pungutan liar dan penggelapan pajak. Anehnya, itu semua dilakukan oleh pejabat di tingkat lokal.
Karenanya, buku ini mengungkap ketidakadilan dan ketidaksamaan yang menimpa 900 jiwa petani di provinsi Anhui (provinsi paling miskin di China). Dari sanalah berbagai persoalan ketidakadilan diungkap dan dari sanalah pula angin perubahan siap dihembuskan dengan martir-martir dari kalangan petani.
Salah satu martir bernama itu bernama Ding Zuoming. Dia seorang petani miskin dari desa Luying, kecamatan Jiwangchang, Kabupaten Lixin, provinsi Anhui. Meskipun petani, dia sangat berbeda dengan petani kebanyakan. Dia cerdas, punya akses informasi banyak, dan yang jelas punya keberanian. Ding dan kawan-kawan memprotes para kader desa yang telah meneras petani, salah satunya pajak.
Itu jelas kebijakan yang bertentangan dengan Partai. Ding karenannya, minta audit keuangan desa. Tentu saja ini mendapat tentangan pejabat yang berkuasa. Ding terlibat perkelahian dengan Ding Yanle. Tetapi bukan dia yang dikasihani, bahkan dia diwajibkan membayar pengobatan Ding Yanle dan membayar biaya angkutan untuk pengobatannya. Padahal jelas, Ding tidak salah. Akhirnya, Ding menemui ajalnya.
Dalam sejaran Anhui kejadian itu dikenal dengan “Peristiwa Ding Zuoming”. Peristiwa yang terjadi pada 21 februari 1993 dan berakhir dengan kematian Ding keesokan harinya tidak pernah dilupakan masyarakat. Seorang petani yang mengorbankan kehidupan mudanya untuk memprotes ketidakadilan. Kisah Ding bisa didapatkan dalam tulisan berjudul “Sang Martir”
Lain lagi dengan kisah dalam “Sebuah Lingkaran Setan” yang menceritakan 2 orang mati terbunuh dan seorang luka berat. Insiden yang terkenal dengan “Cadangan kas desa” tersebut terjadi pada 4 November 1995. Insiden itu muncul karena perlawanan akibat penggelapan pajak dan pemerasan atas rakyat jelata di Shensai.
Tak heran buku yang ditulis selama tiga tahun ini begitu membuka mata lebar-lebar masyarakat dunia. Bahkan buku China Undercover itu pernah menggemparkan Beijing Book Fair. Itu terbukti dengan pesanan 60.000 eksemplar langsung habis dalam waktu 3 hari. Tidak itu saja, cetakan pertama terjual 100 ribu eksemplar dalam waktu 1 bulan.
Chen dan Wu (dua penulis buku tersebut) bukan tanpa perlawanan dari pejabat yang dikritik dalam bukunya. Ia bahkan sempat diadili, dikeluarkan dari pekerjaannya, dan rumahnya dilempari batu oleh gerombolan orang. Yang membuat mereka hampir frustasi, ia tidak boleh mempublikasikan dan menerima wawancara media massa di China. Tetapi akibatnya, apa yang mereka perbuat tidak mendapatkan simpati apa-apa. Dengan pertimbangan matang dan siap menerima risiko, ia sengaja menerima wawancara wartawan luar negeri. Tak lain, agar gaung penindasan di China bisa tersebar ke seluruh dunia.
Jika diamati lebih jeli, buku ini memuat serangkaian kisah yang secara umum merujuk pada istilah Triple-Agri (San-Nong), yakni masalah pertanian, wilayah pedesaan dan petani. Triple-Agri menjadi ciri khas masalah China. Bahkan Triple-Agri sebenarnya bukan semata-mata persoalan pertanian maupun ekonomi an sich, tetapi ia sudah menjadi masalah terbesar yang dihadapi pihak yang berkuasa di China. Sebab, masyarakat China mayoritas hidup di pertanian dan tinggal di pedesaan.
Namun demikian, bahkan selama bertahun-tahun, kesan yang didapatkan tentang China dari media massa hanyalah berbagai laporan yang mengembar-gemborkan sesuatu yang menyenangkan dan menggembirakan. Pengetahuan orang-orang kota tentang petani di China sendiri jauh dari kenyataan.
Buku ini memang dilarang, tetapi justru terus tersebar. Dampaknya begitu luar biasa. Tidak saja karena penyampaian yang nyata atas fakta yang menimpa para petani dan orang miskin China. Tetapi, pembaca akan digiring untuk menaruh simpati terhadap mereka yang “terbuang”. Yakni petani sebagai tulang punggung negara, sama seperti yang terjadi di Indonesia.
Fakta-fakta yang disampaikan Chen dan Wu hampir tanpa kecuali dikumpulkan dari “wilayah-wilayah terlarang” yang manakutkan dengan teknik penulisan jurnalisme. Termasuk kasus-kasus kejahatan besar di berbagai wilayah pedesaan, kasus-kasus yang telah memperingatkan Komite Pusat Partai Komunis mengenai apa yang telah disembunyikan dalam rapat-rapat publik, terutama oleh pejabat di tingkat Kecamatan dan Provinsi Kenyataannya, kebenaran dilumpuhkan, sedangkan kebohongan bertambah subur.
Buku ini telah manantang setiap asumsi atas kisah orang-orang China selama ini. Buku ini seharusnya menjadi bacaan penting bagi siapa pun yang tertarik pada bagaimana sebenarnya kehidupan yang ada di RRC dan mereka yang peduli pada kaum miskin.
Para penulis Indonesia yang selama ini hanya berurusan dengan tulisan-tulisan populer, “lendir” selayaknya memutar haluan memilih penulisan berdasar fakta yang berguna bagi masyarakat untuk masa datang, bukan sekadar menghibur semata. Sebab, buku ini berguna tidak saja untuk masyarakat tetapi demi kemajuan bangsa ini di masa datang juga.
Chen dan Wu telah memberikan contoh, kita yang ada di Indonesia sebenarnya harus ikut tergugah. Kenapa? Rakyat miskin di negeri ini juga masih sangat tinggi sekali. Petani terus dicekik di tingkat lokal dengan harga gabah yang rendah, sementara pemerintah seolah “berdiri di menara gading” tak pernah menyentuh “tanah”.



wawanekoyulianto wrote on Apr 29
lah, ternyata kene tahu ngresensi buku sing podo cak. sampean malang ngendi? perasaan aku tahu ngerti resensi sampean ini di jawa pos ya? atau surya?
nurudin wrote on May 7
resensi iki neng jawa pos cak
sekarang saya tinggal di Jl. ulil abshar 47, mulyoagung, dau, malang (dekat perumahan embong anyar). kapan2 mampir ya? (0341-6100295)
Add a Comment
How would you rate this book? (optional)
   
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help